Sekilas STBM di UPT Puskesmas Arjosari

Tahukah Anda?

Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

Angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 adalah sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare terjadi di 16 propinsi.

Sekitar 70 juta orang di Indonesia masih mempraktikkan buang air besar sembarangan/BABS (Laporan MDG 2007), dan hanya 12% masyarakat Indonesia yang mencuci tangan setelah buang air besar (Studi BHS, 2006).

Hasil studi Water and Sanitation Program (WSP) Bank Dunia (2008) menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 58 Triliun per tahun atau sekitar Rp 225 ribu per rumah tangga akibat kondisi sanitasi yang buruk.

Sebagai jalan keluar dari permasalahan ini, sejak 2006 pemerintah memperkenalkan program sanitasi dengan pendekatan sanitasi total. Pemerintah memperkenalkan program ini dengan nama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

 

 

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Saat ini STBM adalah sebuah program nasional di bidang sanitasi berbasis masyarakat yang bersifat lintas sektoral. Program ini dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI.

Pada bulan September 2008 STBM dikukuhkan sebagai Strategi Nasional melalui Kepmenkes No 852/Menkes/SK/IX/2008. Strategi ini menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.

Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Sedangkan indikator output-nya adalah sebagai berikut :

  1. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
  2. Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
  3. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
  4. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
  5. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

Program nasional STBM dikhususkan untuk perubahan perilaku masyarakat dengan metode pemicuan, sehingga program ini adalah program yang berbasis masyarakat, yang tidak memberikan subsidi bagi rumah tangga.

Kecamatan Arjosari khususnya di wilayah kerja UPT Puskesmas Arjosari pada tanggal 1 Juni 2011telah diadakan sosialisasi STBM/ODF dengan lintas sektor yang dihadiri oleh Kepala Desa, Kepala UPT lintas sektor dan Bagas (Kader Desa Siaga), serta telah melaksanakan pelatihan STBM bagi Bagas (kader desa siaga) dan Staf Puskesmas Arjosari dengan jumlah peserta 40 orang.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan akses jamban keluarga masyarakat Kecamatan Arjosari khususnya wilayah kerja UPT Puskesmas Arjosari dengan menggunakan metode pemicuan STBM, sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi tentang akses jamban keluarga dengan metode pemicuan STBM.

Dari hasil pendataan oleh Bagas (kader Desa Siaga) diperoleh Jamban Sehat Permanen (JSP) 48%, Jamban Sehat Semi Permanen (JSSP) 42% dan yang masih BAB di sembarang tempat (OD) 10%.

Kegiatan pemicuan STBM di wilayah UPT Puskesmas Arjosari telah dilaksanakan pada 8 desa dari 12 desa yang ada. Dari  8 desa yang telah diadakan pemicuan banyak masyarakat terpicu diantaranya ada yang siap tiga hari, seminggu, satu bulan dsb, serta mendapat dukungan dari Kepala Desa yang siap untuk ODF antara lain Desa Karanggede, Desa Karangrejo, Desa Jatimalang dan Desa Gayuhan, tetapi ada juga yang sama sekali tidak ada yang antusias karena masyarakat tersebut masih menunggu adanya bantuan atau subsidi dari pemerintah untuk membuat sarana BAB.

Oleh karena waktu pelaksanaan pemicuan terkendala dengan waktu yang belum tepat, karena team fasilitator STBM masih banyak yang merangkap program lain  dan juga karena masyarakat kurang begitu paham betapa pentingnya hidup bersih dan sehat juga terkendala biaya. Dalam kegiatan ini warga terlebih dahulu diberikan pengertian-pengertian tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan, diajak diskusi untuk menemukan dan memecahkan masalah lewat pemicuan.

Posted on October 12, 2011, in PROMOSI KESEHATAN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: